BI Proyeksikan Ekonomi Sultra Hanya Mampu Tumbuh 4,3%

69
Ilustrasi

Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di Sultra tahun ini bakal melambat dibandingkan sebelumnya.

Laporan: WATY, Kendari.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sultra Suharman Tabrani mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada 2020 diproyeksikan berada pada kisaran 3,9 hingga 4,3% year on year (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 6,5% (yoy).

“Perlambatan ekonomi Sultra dipicu oleh adanya wabah Covid-19. Dampak corona ini memang menahan laju pertumbuhan ekonomi kita pada 2020 ini,” ungkap Suharman melalui telepon, Selasa (26/5).

Sejumlah faktor yang menjadi downside (sisi penurunan) pertumbuhan ekonomi Sultra yakni pembangunan fisik yang dilakukan pemerintah akan tertahan seiring dengan penghentian sementara pengadaan barang dan jasa dan difokuskan pada penanganan kasus Covid-19.

Selain itu, pemberlakuan social distancing memberikan dampak pada konsumsi masyarakat terutama pada bahan nonmakanan. Tak hanya itu penundaan dana alokasi umum (DAU) terhadap 11 kabupaten/kota sebesar 35% berpotensi menurunkan kinerja konsumsi pemerintah.

“Pengetatan akses keluar masuk untuk manusia dan barang diperkirakan juga akan berdampak pada investasi yang dilakukan oleh swasta,” ujarnya.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia pun dinilai dapat berdampak pada perdagangan luar negeri di Sultra. Selain itu, harga nikel dunia diperkirakan juga akan mengalami penurunan.

Sementara itu, ada pula faktor yang diprediksi dapat mendorong pertumbuhan atau upside factor ekonomi di Sultra yaitu kinerja industri pengolahan, diperkirakan akan mengalami peningkatan didukung oleh kapasitas produksi smelter dan industri olahan logam yang masih cukup tinggi.

Program bantuan dari pemerintah seperti peningkatan bantuan sosial (bansos) nontunai, rencana pelaksanaan bantuan langsung tunai, insentif bagi UMKM dan tenaga medis, program prakerja dan tingkat inflasi yang rendah diperkirakan juga dapat menjaga tingkat konsumsi rumah tangga.

Serta harga minyak dunia yang mengalami penurunan dapat mengurangi nilai impor dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Sultra. (*)

Facebook Comments