Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Hampir Semua Kampus di Kendari Punya “Ayam Kampus”

354
Ilustrasi

Berdasarkan pernyataan salah satu mucikari di Kota Kendari, Senin (13/1), sebut saja namanya Rangga, hampir semua kampus di Kendari mempunyai oknum mahasiswi yang menyambi sebagai “ayam kampus”.

LAPORAN. SUMARDIN, KENDARI

Baik di perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), sekolah tinggi kesehatan (stikes) dan lainnya. Terkadang juga masih duduk di sekolah menengah atas (SMA) sederajat.

Menanggapi hal tersebut,  pengamat pendidikan Sulawesi Tenggara (Sultra) Prof Abdullah Alhadza mengatakan, persoalan ini sebenarnya bukan lagi hal baru, melainkan sudah lama terjadi di lingkungan kampus.

Sambungnya, hanya saja sekarang lebih dimudahkan dengan hadirnya media sosial (medsos) dan juga komunikasi yang semakin canggih.

Untuk itu, lanjut dia, sangat penting diberikan pendidikan karakter, agama, pendidikan moral, menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga serta partisipasi masyarakat.

“Jadi hal-hal seperti ini ‘ayam kampus’ tidak diserahkan sepenuhnya dipercayakan kepada pihak kampus. Tapi orang tua harus mengawasi dan jalin komunikasi yang baik, karena itu tidak terjadi secara tiba-tiba melainkan ada pemicunya,” tuturnya.

“Sudah tentu itu, akan  mengurangi kualitas sumber daya manusia (SDM) kita, mengingat sudah tidak bisa lagi menjadi tenaga pendidik yang diharapkan, tidak produktif karena pendidikannya sudah tidak fokus kepada keilmuannya,” imbuhnya.

Sementara itu, psikolog Universitas Halu Oleo (UHO), Yuliastri Ambar Pambudhi SPsi  MPsi, mahasiswi yang menyambi “ayam kampus” terkadang memang gegara faktor ekonomi, lingkungan/teman yang erat kaitanya dengan gaya hidupnya serta memenuhi kebutuhan biologisnya yang harus tersalurkan.

Tapi fenomena ini mesti dilakukan penelitian lebih jauh. Dan orang- orang seperti ini sekarang sulit untuk dibedakan dengan mahasiswa pada umumnya.

“Tapi kalau saya melihat konteks sosialnya lebih kepada ekonomi dan gaya hidupnya. Dan ini masuk kategori psikososial (menggambarkan hubungan kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mental),” ujarnya.

Psikososialnya ini, akan mempengaruhi dirinya  saat mau menikah nanti, karena menganggap dirinya tidak perawan dan itu akan menjadi beban tersendiri buat dia ke depan. Tetapi, apabila ia survive (bertahan) mengatasi kondisi tersebut maka dia akan nyaman dan baik-baik saja.

“Dikhawatirkan orang-orang seperti ini enggan untuk menikah, karena takut mendapatkan kesengsaraan. Dan itu menjadi depresi (beban) buat dia,” ucapnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"