Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Tuntutan Jaksa Tidak Sesuai Harapan, Istri Aditya Minta Keadilan

27
Ilustrasi

Sidang kasus pembunuhan Abu Saila alias Aditia (55), presenter kondang TVRI, tinggal menunggu vonis dari hakim. Jaksa penuntut umum (JPU) telah membacakan tuntutan terhadap terdakwa Achi Suhasim (29), 12 tahun penjara. Tuntutan tersebut dianggap merugikan keluarga korban.

LAPORAN: SUHARDIMAN NABA, Kendari

Istri korban Yulianti yang diwawancarai wartawan koran ini mengaku kecewa dengan tuntutan jaksa pada terdakwa yang dibacakan pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kendari, Senin (20/2).

Dirinya bersama keluarga korban lain tidak menyangka jaksa menuntut terdakwa hanya 12 tahun penjara. Padahal, awalnya terdakwa didakwa dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun penjara.

“Awalnya 3 pasal berlapis hukuman 20 tahun penjara, di situ kita senang. Tapi saat tuntutan hanya 12 tahun penjara. Ini ada apa, jelas-jelas kronologisnya saat disidang,” ujar Yulianti saat ditemui usai persidangan.

“Di persidangan, saksi penjaga warung melihat dia (terdakwa) cuci tangan usai membunuh. Saya juga sebagai saksi dan ipar saya semua sama kronologisnya. Harusnya jaksa sebagai penegak hukum paham,” tambahnya.

Usai sidang, Yulianti mengatakan dirinya sempat menanyakan tuntutan tersebut pada jaksa yang membacakan. Namun, jaksa tersebut tidak memberikan jawaban.

“Jangan tuntut saya, saya hanya membacakan,” kata Yulianti mengutip jawaban jaksa tersebut.

Pihak keluarga juga coba menyambangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari untuk bertemu Kepala Kejaksaan (Kejari). Mereka ingin mempertanyakan tuntutan tersebut dan kenapa sidang tuntutan ditunda 2 kali.

“Sampai di sana (Kejari) kata pegawainya, ‘Kajarinya keluar’. Rencana mau pergi lagi tapi saya rasa percuma. Tinggal kami tunggu putusan hakim saja,” ujarnya.

Lanjut Yulianti berharap hakim punya hati nurani memutuskan hukuman terdakwa. Pasalnya, sambung dia, suaminya merupakan tulang punggung keluarga, yang menghidupi dia dan 2 anaknya.

“Bagaimana jika mereka di posisi saya. Psikologi anak-anak saya terganggu. Mereka dengar-dengar kita cerita, tahu hukumannya rendah. Jadi ternyata orang membunuh itu hukumannya rendah,” ujarnya.

Terpisah, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nanang Ibrahim menuturkan tuntutan tersebut berdasarkan fakta-fakta persidangan.

Disebutkan dari 3 pasal yang didakwakan, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan yang kuat pembuktiannya selama persidangan.

Sedangkan, Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana dan pasal 351 tentang Penganiayaan dinilai pembuktiannya tidak terlalu kuat saat di persidangan.

“Pasal 338 ancaman hukumannya maksimal 15 tahun. Jadi kita putuskan menuntut 12 tahun, ini juga sesuai pertimbangan fakta persidangan yang memberatkan dan meringankan terdakwa,” kata Nanang melalui sambungan telepon, Senin.

Nanang mengatakan tuntutan pada terdakwa masih bisa berubah, tergantung dari majelis hakim yang memutuskan.

“Jadi masih berpotensi akan bertambah atau berkurang. Majelis hakim akan menilai sesuai dengan fakta-fakta di persidangan,” pungkasnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"