Merendahkan Kehormatan Rupiah Bisa Dipenjara 5 Tahun

Ilustrasi

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) selalu mengedukasi masyarakat agar bisa memperlakukan uang rupiah dengan baik.

Laporan: Waty, Kendari.

Kesedaran masyarakat pada 2019 dalam memperlakukan uang rupiah sudah semakin baik jika dibandingkan 2018.

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Rupiah KPwBI Sultra Irfan Farulian mengatakan, sepanjang 2019 KPwBI Sultra berhasil mengumpulkan uang tidak layak edar (UTLE) sebesar Rp1,33 triliun. Sementara, pada 2018 periode 1 Januari sampai 31 Desember lebih besar yakni Rp1,7 triliun.

“BI selalu mengedukasi masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat uang rupiah dengan baik agar kualitas uang rupiah bisa bertahan dengan lama,” ungkapnya, Selasa (4/2).

Dalam memperlakukan uang rupiah, BI memperkenalkan metode 5 Jangan, yaitu Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Distapler, Jangan Diremas, dan Jangan Dibasahi.

BI mengingatkan, sesuai amanat Pasal 25 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, setiap orang dilarang untuk merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan rupiah sebagai simbol negara.

Sanksi atas pelanggaran ketentuan tersebut adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Irfan menjelaskan, UTLE yang dikumpulkan oleh BI itu sudah tidak diedarkan lagi ke masyarakat, tetapi dilakukan pemusnahan uang oleh Bank Indonesia melalui alat mesin dan diracik sampai menjadi abu.

“Di mana uang yang beredar mempunyai siklus dan masa kepada masyarakat, ketika uang itu dinyatakan sudah tidak layak edar atau lusuh itu yang kami musnahkan. Yang masuk kembali di Bank Indonesia yang paling besar uang yang tidak layak edar itu pecahan kecil,” ujarnya.

Katanya, jika dilihat dari sisi nominal yang UTLE yang dikumpulkan Rp1,33 triliun tetapi kalau dipilah berdasarkan pecahan yang paling banyak yakni uang pecahan kecil (UPK).

Mekanisme BI mendapatkan uang lusuh itu yakni uang yang beredar dimasyarakat saat melakukan transaksi sebagian besar nanti akan masuk kembali ke perbankan untuk masuk ke rekeningnya.

Saat masuk ke rekeningnya oleh bank kemudian disortir lagi yang masih layak edar diedarkan kembali ke masyarakat yang yang tidak layak edar disetor ke Bank Indonesia, jadi itu seluruh akumulasi bank yang disetor ke Bank Indonesia. (*)