Dewan Ancam Hentikan Insentif Dokter Ahli di RSUD Raha

201
Wakil Ketua DPRD Muna, Muh Natsir Ido saat melakukan sidak di RSUD Raha

RAHA, BKK – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muna mengancam akan menghentikan insentif dokter ahli di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raha.

Ancaman itu dilakukan Komisi III DPRD Muna karena menemukan kurangnya pelayanan dokter ahli yang ada di RS tersebut saat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak), Kamis (13/2) kemarin.

Ketua Komisi III DPRD Muna, La Irwan sangat prihatin kepada para pasien yang tengah berobat di RS tersebut. Pasalnya, kata dia, bukannya akan cepat sembuh, melainkan akan semakin parah sakitnya yang diakibatkan kurang maksimalnya pelayanan para dokter ahli.

“Masalah fasilitas dan pelayanan yang jadi sorotan. Toilet yang mampet, stok darah kurang, pelayanan kesehatan yang lambat dan tidak maksimal. Ada baiknya Direktur RSUD Raha ini bersama stafnya kita berangkatkan ke Labuan Bajo. Disana RSnya sangat hebat, incomenya saat jadi BLUD naik dua kali lipat,” katanya dengan nada sedikit kesal.

Sementara itu, Anggota Komisi III Awal Jaya B sangat menyesalkan atas pelayanan dokter ahli yang ada di RS tersebut. Pasalnya, kata dia, berdasarkan laporan para pasien yang ada, dokter ahli yang ada selalu datang terlambat.

“Saya mau tanya kepada Direktur RSUD, dokter ahli yang kerja disini berapa jam dalam sehari. Masa dari informasi sudah jam 09.00 Wita belum datang juga. Padahal insentifnya kita setujui anggaranya sebesar Rp 30 juta perbulan. Kalau kerja dokter ahli tidak jelas dan pelayanan susah begini, lebih baik kita hentikan saja insentifnya,” tegasnya.

Menurut dia, seharusnya dengan keadaan RS yang infrastrukturnya bisa dibilang sangat megah, pelayanan para dokter kepada pasien juga harus dimaksimalkan. “Bicara infrastruktur, RSUD Raha ini cukup baik. Tapi pelayanannya yang kerap dikeluhkan pasien. Apalagi dokter ahlinya, kalau kerjanya cuma 4 jam sehari, terlalu besar itu uang insentifnya, lebih baik kita hentikan saja,” ancammnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSUD Raha, dr Marlin mengakui jika pelayanan yang ada di RS plat merah itu sama sekali belum berjalan secara maksimal. Misalnya, kata dia, terkait stok darah yang ada di RS sama sekali belum memiliki pendonor secara tetap.

“Kalau masalah dokter ahli, memang kita masih kurang. Seperti dokter bedah, kita tidak ada. Kalau jam kerja para dokter ahli mulai pukul 08.00 Wita sampai 14.00 Wita. Mereka itu ASN, tapi mereka tetap berkantor walau malam hari dan hari Minggu jika ada pasien yang mereka tangani,” ujarnya.

Dijelaskannya, penyebab kurang maksimalnya pelayanan di RS tersebut dikarenakan ruang rawat ini kelas 3, 1 dan 2 itu sama sekali belum ada. “Ada kelas 3 yang mau kami modifikasi, tapi mungkin belum maksimal. Tapi tahun 2020 ini ada pengadaan bed sebanyak 96 buah untuk memenuhi kebutuhan bed kelas 1 dan kelas 2,” pungkasnya. (tri/r4)

Facebook Comments