Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Teka-Teki Tewasnya Yusuf Belum Terjawab, Polisi Kurang Alat Bukti

104
Nama Yusuf dan Randi Diabadikan di Ruangan Auditorium Gedung KPK. Wakil Ketua KPK La Ode M Syarif membuka tirai tanda peresmian nama Auditorium Randi-Yusuf di Gedung ACLC KPK, Kamis (19/12/2019).

Tepat hari ini, kejadian yang juga menewaskan Muhammad Yusuf Kardawi, mahasiswa Perikanan UHO masuk pekan ke-16 atau 112 hari. Dan, kejadian tersebut masih menyisakan tanda tanya siapa yang merenggut nyawa Yusuf?

Laporan: SUHARDIMAN NABA, Kendari

Muhammad Yusuf Kardawi (19), mahasiswa Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari adalah salah satu korban yang tewas saat demo di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis 26 September 2019.

Polisi telah menetapkan tersangka kasus tewasnya Randy dan tertembaknya seorang ibu berinisial P (23) dalam insiden tersebut. Tersangkanya adalah Brigadir AM, salah satu dari 6 anggota polisi yang diduga membawa senjata saat pengamanan demo menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU) kontroversial.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Muhammad Nur Akbar, menuturkan, penyidik masih terus melakukan penyelidikan atas kasus meninggalnya Yusuf. Pihaknya telah mengumpulkan keterangan saksi-saksi berkaitan dengan perkara tersebut.

“Saat ini penyidik berupaya mengumpulkan alat bukti yang masih jadi kendala mengungkap kasus Yusuf,” ujar Nur Akbar ditemui di Mapolda Sultra, Senin (13/1).

Disebutkan, sudah sekira 15 orang saksi yang diperiksa atas kasus meninggalnya Yusuf. Para saksi tersebut terdiri atas mahasiswa dan masyarakat yang berada di tempat kejadian perkara (TKP) saat insiden tersebut terjadi.

“Di antara 15 itu ada juga anggota polisi yang diperiksa sebagai saksi. Ada sekitar 5 sampai 6 personel yang diperiksa. Dan masih ada beberapa saksi yang dipanggil sampai saat ini belum hadir,” bebernya.

Lanjut dia, dari keterangan saksi-saksi tersebut, nilai kesaksian belum ada yang mengarah ke unsur-unsur pidana yang disangkakan. Dia menegaskan penyidik tidak mungkin mengabaikan keterangan saksi yang bisa mengarah ke pelaku.

“Keterangan saksi-saksi tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kesesuaian antara keterangan saksi dan alat bukti yang lain untuk mengarah ke siapa pelaku kaitanya dengan perkara itu,” tegasnya.

Dikatakan, polisi tidak mau berasumsi mengenai penyebab meninggalnya Yusuf. Sebab, saat itu, Yusuf yang sempat dirawat di Rumah Sakit Bahteramas belum sempat dilakukan autopsi, jenazahnya langsung dipulangkan ke kampung halaman untuk dimakamkan.

“Semua alat bukti termasuk bukti ilmiah seperti hasil autopsi dan hasil laboratorium forensik dibutuhkan untuk alat bukti. Dan semua itu, baik hasil autopsi dan keterangan saksi harus ada kesesuaian. Sampai saat ini kami belum dapatkan itu,” ujarnya.

Ditanya soal autopsi jenazah Yusuf, lebih lanjut Nur Akbar mengatakan sudah kewenangan polisi untuk mengajukan autopsi pada jenazah korban. Untuk kasus Yusuf, dia menyebutkan sejak awal pihaknya mengajukan dilakukan autopsi namun dari pihak keluarga langsung membawah jenazah korban untuk dimakamkan di kampung halamannya.

“Saat itu tidak diterima. Agar tidak bias jika ada keluarga korban yang sekarang ini mengizinkan dilakukan autopsi kami buka ruang untuk koordinasi ke penyidik. Karena sulitnya mengungkap kasus Yusuf ada di alat bukti,” pungkasnya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"