Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Kasus DBD Usia Sekolah Meningkat Pesat

69

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari 2019, angka penyakit demam berdarah dengue (DBD) usia 5-18 tahun semakin signifikan kenaikannya, yakni 241 kasus  dan 2 di antaranya meninggal dunia.

LAPORAN: SUMARDIN, KENDARI

Pada 2017 hanya 93 kasus 2 meninggal, lalu 2018 tercatat sebanyak 111 kasus dan 2 meninggal.

Hal ini membuat Dinkes dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dikmudora) memberikan perhatian lebih terkait persoalan ini.

Kepada Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kendari Samsul Bahri SKM MKes mengatakan, untuk mencegah penyebaran wabah DBD ini di sekolah, pihaknya sudah  membentuk  juru pemantau jentik (jumantik) dengan memberdayakan siswa, baik di jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Ia menjelaskan, setiap sekolah mempunyai 15 orang jumantik yang dibimbing oleh 2 orang guru dan 1 petugas pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Tugas jumantik yaitu penyelidikan kasus tentang DBD.

“Jadi mereka  ini tidak hanya melakukan survei jentik nyamuk di sekolahnya masing-masing, tapi mereka juga menyosialisasikan pencegahan wabah DBD ini,” ujarnya, Senin (30/12)

Selain membentuk jumantik di setiap sekolah, lanjutnya, Dinkes gencar melakukan sosialisasi dan penyuluhan bersama-sama pihak puskesmas, baik di pos pelayanan keluarga berencana – kesehatan terpadu (posyandu), kelurahan, maupun di majelis taklim, tentang bagaimana cara mencegah penyakit tersebut.

“Target kita, 2020 mendatang tentu menekan penyakit ini.  Terutama  korban meninggal dunia,” ucapnya.

Ia menuturkan, yang menjadi masalah atau persoalan sekarang ini kadang-kadang masyarakat sudah mempunyai pengetahuan terkait demam berdarah, tetapi mereka tidak menghiraukan terutama dengan sarang-sarang nyamuk. Apalagi, lanjut dia, sekarang ini sudah masuk musim penghujan yang identik dengan jentik.

“Untuk menghindarkan masyarakat dengan jentik nyamuk,  Dinkes sudah menyebarkan larvasida (membunuh telur dan jentik) di puskesmas secara gratis,  dan melakukan kegiatan 3M plus yaitu menutup, menguras, mengubur. Plusnya sendiri salah satunya penggunaan larvasida, memakai lotion antinyamuk, tanaman yang ditakuti nyamuk (lavender, serai) dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” terangnya.

Kadisdikmudora Kendari Sartini Sarita menuturkan, dirinya prihatin dengan banyaknya penyakit kasus DBD yang menyerang anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah ini.

Lanjutnya, pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan pihak Dinkes, melalui rapat setiap tahun yang mengaktifkan unit kesehatan sekolah (UKS) yang di dalamnya ada dinkes, dikmudora dan kementerian agama (Kemenag).

“Jadi setiap sekolah itu  mempunyai UKS yang bekerja sama dengan puskesmas terdekat. Mereka itu yang melakukan pendataan apabila terjadi kejadian DBD,” tutupnya.

Diketahui, 2019  ini kasus DBD  usia di bawah 1 tahun 4 kasus 0 meninggal, di level usia 1-4 tahun 43 kasus 0 meninggal , dan usia lebih dari 19 tahun terdapat 161 kasus 0 meninggal. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"