Dana Desa yang Besar di Tangan Kades yang Benar

682
Ilustrasi

Tak ada yang menyangka Desa Wolasi Kecamatan Wolasi Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) akan berkembang sepesat sekarang. Padahal kalau membayangkan kondisi desa itu di tahun 2000-an, dengan  penduduk kurang lebih 700 jiwa, hanyalah sebuah desa yang serba kekurangan. Bahkan fasilitas pendukung untuk masyarakatnya bisa dikata nihil.

LAPORAN: MITA, KENDARI

Perkembangan yang baik itu tidak terlepas dari bantuan dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat. Ditambah pengelolaan yang baik oleh kepala desa (kades) dan aparat desanya. Maklum, aparat yang ada memang asli putra dan putri desa itu, yang menginginkan kemajuan desanya.

Dana desa yang berjumlah ratusan juta itu sejak diberikan pemerintah dari 2014 sampai sekarang, betul-betul dipergunakan dengan baik untuk membagun. Banyak pembangunan di desa itu yang kini dirasakan nyata oleh masyarakat.

Mulai dari bedah rumah, yang kini sudah ada kurang lebih 40 rumah dibanggun untuk masyarakat tidak mampu, dalam jangka 3 tahun setelah kades yang baru menjabat pada 2016 silam. Bahkan, awal Desember ini untuk tahap 3 akan ada lagi yang dibanggun sebanyak 3 buah rumah.

Kepala Desa Wolasi Mustakim mengatakan, Senin (2/11), program bedah rumah memang menjadi fokus utamanya dalam menjabat kepala desa sejak 2016 dia terpilih. Alasannya, dia ingin menyediakan tempat yang layak bagi masyarakatnya.

“Saya berasal dari masyarakat yang juga tidak mampu, jadi setelah saya dilantik menjadi kepala desa, saya sudah bertekad bahwa program bedah rumah akan terus dilakukan. Dan Alhamdulillah sampai sekarang sudah tidak ada lagi masyarakat yang tidak punya rumah, semua rumah beratapkan seng. Dan yang utama layak untuk ditempati,” katanya.

Tak hanya bedah rumah, dana desa juga menjadikan masjid yang ada di desa itu sebagai masjid terbesar di Kecamatan Wolasi. Masjid yang dulunya hanya berukuran kecil, akhirnya direnovasi menggunakan dana desa. Berkat renovasi itu, masyarakat sangat menyambut baik. Pasalnya sejak desa itu berdiri dan sudah 5 kepala desa yang berganti, tak ada tanda-tanda renovasi.

Tak hanya itu, anggaran dana desa benar-benar membantu masyarakat Desa Wolasi. bayangkan saja, jalanan ke sebuah sekolah menengah atas (SMA) dan Puskesmas Wolasi kini telah diaspal, setelah sekian tahun hanya ada batu kerikil besar yang bercampur debu. Adalagi wujud nyata dari dana desa, yaitu pengadaan air bersih yang kini sudah dirasakan masyarakat.

Salah seorang masyarakat bernama Basrim menuturkan, bahwa setelah masjid mereka direnovasi, proses ibadah semakin nyaman, dan tidak lagi berdesak-desakan. Sementara soal air, Basrim menuturkan, bahwa masyarakat sekarang sudah tidak menggunakan sumur lagi. melainkan air pipa yang disambungkan langsung dari mata gunung lokasi air bersih berada.

“Kalau dulu kan mau pake air harus menimbah di sumur, terpaksa kita masing-masing rumah harus menggali sumur. Tapi sekarang sudah serba mudah, airnya tinggal putar keran langsung mengalir. Memang saat musim kemarau, jadi kita harus bergiliran. Kalau hujan sudah ada, pasti akan kembali normal,” ucap Basrim.

Tak berhenti sampai disitu, jika anda berjalan di sekitar Kecamatan Wolasi. khusus Desa Wolasi, lampu jalan nampak jelas memudahkan masyarakat yang berjalan malam. Karena sepanjang jalan desa itu, sudah dipasang lampu jalan yang penerangannya bersumber dari tenaga surya.

Sehingga kata Mustakim, pengadaan dana desa sangat penting dilakukan terus menerus, asal pengelolaannya baik oleh aparat desanya itu sendiri. Karena kalau tidak dikelola dengan baik, praktik korupsi sanggat terbuka lebar untuk  dilakukan.

“Alhamdulillah keadaan desa kami saat ini sudah lebih baik. Termasuk keamanan desa juga sangat baik, ditambah lampu jalan yang sekarang menyinari kampung, menambah rasa aman masyarakat kami,” beber Mustakim.

Meski berhasil membagun infrastruktur dengan baik, namun sayang dari anggaran dana desa itu, belum ada satu inovasi yang mampu memberdayakan masyarakatnya, begitu juga potensi daerah tersebut. Sehingga masyarakatnya cenderung lebih berharap kepada pemerintah dalam hal pembangunan, termasuk bantuan sosial.

Seperti yang dikatakan Nasrudin yang juga masyarakat sekitar. Bahwa memang untuk menciptakan kreativitas ekonomi di daerah tersebut, masih belum ada yang terjadi. Padahal masyarakat sekitar memiliki kebun sendiri untuk menanam sayur atau tanaman lain.

“Mereka banyak yang punya tanaman. Misalnya sayur, mereka kalau makan sayur rata-rata ambil dikebun sendiri, tapi entah kenapa untuk membagun masyarakat menjadi masyarakat ekonomi itu sudah sekali,” ujarnya kepada wartawan Berita Kota Kendari.

Olehnya itu, menurut kades, tahun 2020, melalui dana desa pula, desa itu akan memanfaatkan segala sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada untuk benar-benar dimanfaatkan. Sehingga bisa menyejahterakan masyarakat. (*)

Facebook Comments