Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Pecandu Narkoba di Sultra Hampir Sebanyak Penduduk Pulau Wawonii

71
Ilustrasi

Hasil survei yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra), di daerah ini terdapat 28 ribu pecandu narkoba. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) merupakan wilayah dengan penduduk paling sedikit, yaitu 33 ribu jiwa, dengan demikian penduduk yang mendiami Pulau Wawonii itu hampir sama banyak dengan jumlah pecandu narkoba di Sultra.

LAPORAN: FAYSAL AHMAD, KENDARI.

Maraknya peredaran narkoba di Sultra akan berdampak pada masa depan masyarakatnya.

Seperti yang disampaikan Kepala BNNP Sultra Brigjenpol Imron Korry,  data pecandu narkoba yang sudah mengikuti rehab di Sultra sampai saat ini sudah mencapai 1.500 orang.

“Kemudian menurut hasil survei di Sultra sendiri terdapat 28 ribu pecandu, sementara yang mengikuti rehab baru 1.500 orang. Jadi, masih ada 26.500 orang pecandu yang belum di rehab,” katanya, saat melakukan sosialisasi tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkup aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra belum lama ini.

Imron menyebutkan, pihaknya juga menyiapkan rehabilitasi kepada pecandu narkotika secara gratis.

“Jadi ada dua rehabilitasi rawat jalan dan rawat inap. Kalau rawat jalan bisa di Sultra, yakni RS Polri, RS Bahteramas, dan puskesmas. Sementara untuk rawat inap biasanya pecandu berat di bawah ke Makassar dengan perawatan gratis, namun ongkos ke Makassar ditanggung oleh pasien,” jelasnya.

Kata dia, selain pecandu mendapatkan rehab gratis, pihak pecandu di saat melapor akan bebas pidana.

“Dengan catatan pecandu murni,” katanya.

Lanjut dia, saat ini BNNP Sultra juga mengupayakan kerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari dengan melibatkan puskesmas, namun ia mengakui hasilnya belum maksimal.

“Jadi, mungkin ada cara lain yang lebih bagus agar menarik para pecandu ini melaporkan diri. Sebab dengan melaporkan diri kita obati sembuh, sehingga penggunanya berkurang,” paparnya.

Imron juga menyebutkan, saat ini narkoba sudah masuk dalam setiap lini tidak saja ASN, namun juga bisa jadi pada swasta dan anak sekolah.

“Khusus ASN sudah ada penemuan tahun ini sebanyak satu orang, dan pengguna narkotika sendiri masuk dalam usia-usia produktif,” bebernya.

Baru-baru ini pihaknya memusnahkan 2,09 kilogram (kg) barang bukti narkotika jenis sabu-sabu yang merupakan hasil temuan selama Oktober 2019 lalu yang terdiri 8 orang tersangka.

Di samping itu juga, baru-baru ini Kapolda Sultra Brigadir Jenderal Polisi (Brigjenpol) Merdisyam mengungkapkan dalam konferensi pers, Selasa (29/10), jumlah sabu-sabu yang berhasil ditangkap pada 2017 kurang lebih 1 kilogram (kg). Pada 2018 jumlahnya meningkat menjadi 3 kg. Dan, tahun ini, dalam 10 bulan saja polisi telah mengamankan 18 kg lebih sabu-sabu.

Kapolda merinci, berdasarkan data kasus narkoba di Sultra selama 3 tahun terakhir dimulai 2017 sampai 2019 terjadi peningkatan yang cukup signifikan.

“Kalau dalam tahun 2017 tercatat kasus sebanyak 300 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 308 tersangka, dengan barang bukti yang didapat sebesar 1,166 kg sabu-sabu, 544,73 kg ganja,” beber Kapolda.

Kemudian pada 2018 kasus meningkat menjadi 290 kasus dengan tersangka 407 orang dan barang bukti 3,068 kg sabu-sabu, dan 6,82 kg ganja.

Lalu, pada 2019, Merdisyam menambahkan, sampai dengan Oktober kasus yang berhasil diungkap sudah sebanyak 191 dengan tersangka 252 orang.

“Secara kuantitas, barang bukti yang berhasil diamankan sebesar 18,589 kg sabu, artinya peningkatan ini terjadi cukup signifikan,” nilainya.

Sementara itu, kesaksian salah seorang yang pernah mengkonsumsi narkoba yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, bahwa di Sultra sudah banyak pengguna narkoba salah satunya di Kota Kendari.

“Dan kami melakukan ini karena faktor ekonomi, dulunya kami mencoba-coba. Setelah ketagihan akhirnya kami menjual barang haram itu, dari hasil itu kami membeli lagi untuk menenangkan diri,” jelasnya kepada media ini.

Lanjut dia, di saat dirinya memakai narkoba, ia merasa senang namun disaat overload (kelebihan) dirinya merasa paranoid (ketakutan berlebihan).

“Jadi saya takut dan panik. Dan ada motor lewat di depan saya langsung lari dengan menyebut polisi-polisi. Jadi, kita itu kayak orang gila,” tuturnya.

Setelah ditanya di saat menggunakan barang haram itu tiba-tiba berhenti? Ia merasa menggigil dan gelisah, namun dirinya bersyukur bisa menjauhi barang haram ini.

“Jadi ada teman saya juga saya kenal, dia sudah sebagai pengguna ada kelahiran 2000-an dan ada juga bapak-bapak,” ungkap pria yang saat ini fokus mendekatkan diri kepada Tuhan. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.