Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

“Kalau Ada Orangtua Banggakan Anaknya Sarjana, Maka Saya Juga!”

300
La Ode Abdul Kadir saat menjahit sepatu. (FAYSAL/BKK)

Penjahit sepatu di kampus Universitas Halu Oleo ini punya 5 anak. Dari pekerjaannya itu dia menghidupi istri dan 5 anaknya. Anak pertama telah menikah, yang kedua sudah jadi pegawai, yang ketiga belum lama wisuda di Stikes Mandala Waluya, anak keempat dan kelima sementara kuliah di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Salah satunya akan wisuda tahun ini.

LAPORAN: FAYSAL AHMAD, KENDARI

Dia tidak lain La Ode Abdul Kadir (65), pria asal Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat (Mubar).

Ia tidak mengecap bangku pendidikan seperti yang orang lain rasakan. Sejak usia 1 tahun sudah ditinggal oleh ibunya, dan pada umur 3 tahun ayahnya menyusul ke alam baka. Masa kecilnya ia tinggal sama anggota keluarganya dan setelah beranjak dewasa ia memutuskan merantau ke Kolaka.

Abdul mengatakan, saat darinya meninggalkan tanah kelahirannya yang saat itu belum mekar dari Kabupaten Muna, karena faktor ekonomi.

“Jadi sudah cukup lama saya merantau. Dan sudah ada 14 tahun saya menjahit sepatu. Penghasilan tidak menentu, tergantung dari pelanggang, tapi Rp100 ribu adalah,” Abdul  berkisah, sembari terus menjahit satu persatu sepatu pelangganya. Ia mangkal di pertigaan kampus UHO Kendari.

Abdul meneruskan, anaknya yang pegawai lolos PNS di Ambon merupakan anak kedua. Yang pertama menjadi ibu rumah tangga.

Anak yang sarjana merupakan jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Mandala Waluya Kendari jurusan kesehatan masyarakat (kesmas). Sedangkan yang akan wisuda tahun ini adalah anak keempat kuliah di fakultas pertanian. Si bungsu berkuliah di Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

“Semua itu saya biayai dari hasil jahit sepatu ini,” tuturnya.

Kata Abdul, menyekolahkan anaknya atas motivasinya sendiri, karena berkaca pada dirinya yang tidak pernah merasakannya bangku pendidikan.

“Jadi saya sekolahkan anakku ini start dari nol. Semoga anak-anak saya bisa mengubah nasib. Karena saya pas sudah dewasa, merantau ke Kolaka dulu dan terakhir ini saya tinggal di Kendari,” tuturnya.

Abdul juga menyebutkan, semua anak-anaknya tidak mempunyai laptop, bahkan motor pun tidak ada.

“Jadi, saya mendingan mengutang di Koperasi Samaturu untuk biayai anakku sekolah dan pengembaliannya melalui menjahit sepatu. Dan itu semejak anaknya saya kuliah  di Mandala Waluya pada semester IV saat itu SPP-nya Rp1,6 juta angkatan 2012. Sekarang tidak mengutang lagi,” kata pria yang saat ini tinggal di Kecamatan Kadia Kota Kendari.

Dikatakan pula, biar orangtua sudah bekerja banting tulang jika anak tidak mau sekolah, maka mustahil. Menurut dia, semua itu bergantung kemauan dari anak itu sendiri.

Abdul pun mencontohkan, ada seorang temannya pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah. Namun anak dari temannya itu tidak mau menjalani pendidikan, bahkan sudah didaftarkan di salah satu perguruan tinggi namun ternyata tidak pernah masuk kampus.

“Jadi, tergantung dari anak-anak mau jika mengubah nasib maka ada-ada saja rezeki. Dan, kita juga sebagai orangtua kita upayakan bagaimana anak kita bisa seperti anak lain,” ujarnya.

Sekarang, sambung dia, dirinya tidak perlu minder pada orang lain apabila membanggakan anaknya sudah sarjana.

“Maka saya juga berhasil mensarjanakan anak saya,” katanya.

Meski demikian, lanjut dia, jika ada seseorang yang bercerita tentang kesenangan duniawi, maka jangan tanyakan itu kepada Abdul.

“Namun jika bertanya tentang penderitaan duniawi maka boleh bertanya kepada saya,” ucapnya.

“Karena saya tidak dapat orangtua saya, bagaimana wajahnya ibu bapak saya. Karena di  saat meninggal saya punya mama, gigi saya baru 2. Jadi, saat itu umur saya baru umur 1 tahun. Begitupun juga bapak saya meninggal, saya baru bisa lari-lari, mungkin (usia) 3 tahun. Jadi saya rasakan susahnya dunia itu sejak dari kanak-kanak sekarang ini sudah tua,” kenangnya.

Ia menambahkan, dengan adanya anaknya yang menjadi sarjana dan pegawai, dirinya merasa bersyukur karena hal itu juga mengangkat harkat dan martabat diri dan keluarganya.

“Karena di saat seseorang tidak memiliki pendidikan maka akan dipandang orang lain sebelah mata.”

“Jadi, nanti anak saya melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi saya baru dilirik orang. Tapi dulu, kalau saya tegur orang, orang buang muka. Dan, alhamdulillah sekarang sudah ditegur,” katanya. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

// Prints content with layout that is selected in panels. // Location: "views/general/post/style-*.php"