Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Jejak Peluru di Tubuh Randy Konsisten dengan Pistol Milik Brigadir Abdul Malik

54

Jakarta, BKK- Kepolisian Negara RI (Polri) menetapkan Bridgadir Abdul Malik sebagai tersangka kasus tewasnya Immawan Randy (21), mahasiswa Universitas Halu Oleo yang terkapar dengan sebuah lubang peluru bundar di dadanya, saat aksi unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 26 September.

Malik merupakan satu dari 6 polisi yang membawa senjata saat pengamanan demonstrasi tersebut. Dari keenamnya, hanya 3 yang melepas tembakan, yang salah satu peluru yang dilepas itu mengenai Randy. Hasil uji balistik menujukkan peluru yang mengenai randy berasal dari senjata Brigadir Malik.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (7/11), Malik setelah ditetapkan sebagai tersangka akan dibawa ke Bareskrim Polri untuk ditindak secara hukum. Berkas perkaranya juga akan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung).

“Nanti proses pidananya dulu dijalani. Karena yang menjalani tindak pidananya oleh Bareskrim. Nanti yang bersangkutan akan dibawa ke Bareskrim,” ujar Dedi kepada wartawan di Mabespolri, kemarin.

Polri menjerat Malik dengan pasal 351 ayat 3 dan atau pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) subsider pasal 360 ayat 1 dan ayat 2.

Tidak Jejak Ada Peluru di Tubuh Yusuf

Ketua tim penyidikan kasus ini, Kombes CH Patoppoi menjelaskan lebih lanjut mengenai hasil penemuannya.

Pria yang menjabat Kasubdit 5 Dirpidum Bareskrim menerangkan, dari hasil uji balistik yang dilakukan terhadap tiga proyektil dan enam selongsong peluru, ditemukan dua selongsong di antaranya identik dengan dua proyektil peluru yang ditemukan di lapangan. Proyektil peluru tersebut, kata Patappoi, identik dengan senjata api jenis HS yang digunakan oleh Malik.

“Tiga selongsong ditemukan di TKP, tiga selongsong diserahkan Ombudsman Sultra pada 4 Oktober 2019,” ujarnya melengkapi.

Selain melakukan uji balistik, proses penyelidikan juga dilakukan dengan pemeriksaan terhadap 25 saksi. Termasuk di antaranya 6 anggota Polda Sultra dan Polres Kendari yang dijatuhi sanksi disiplin karena membawa senjata api, dan 2 dokter yang menangani pemeriksaan visum et repertum terhadap 2 korban.

Dari hasil visum tersebut, lanjut dia, Randy dinyatakan meninggal karena luka tembak. Begitu juga ibu hamil dinyatakan terkena luka tembak di bagian betis kanan. Sedangkan hasil visum Moh Yusuf Kardawi tidak membuktikan meninggal karena luka tembak.

Ketika ditanya mengenai kronologi penembakan yang dilakukan Malik, Dedi enggan membeberkannya kepada wartawan.

“Saya rasa tidak perlu saya ulangi lagi bagaimana proses pengamanan unjuk rasa yang ada di Sultra yang berakhir ricuh yang akhirnya menjatuhkan korban,” ujarnya.

Dedi mengatakan kesaksian Malik mengenai kronologi penembakan yang dilakukan terhadap Randy dan Yusuf tidak relevan selama bukti-bukti dinyatakan kuat untuk menetapkannya sebagai tersangka.

“Dalam 184 KUHAP, keterangan tersangka itu urutan ke-5. Pembuktian-pembuktian itu [urutan ke] 1, 2, 3, 4. Alat bukti itu jauh lebih diutamakan. Tersangka mau mengaku atau tidak itu hak konstitusional tersangka. Tapi bukti-bukti yang dimiliki sudah cukup kuat,” tambah Dedi. (jpn/iis)

Leave A Reply

Your email address will not be published.