Berita Kota Kendari Online
Cerdas Menyatakan Lantang Menyuarakan

Bentrok Demo Pembunuhan Randi-Yusuf: Massa Lempari Polisi dengan Tinja

9

KENDARI, BKK- Mahasiswa kembali melakukan aksi unjuk rasa di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (28/10). Mereka menuntut profesionalisme polisi untuk mengungkap pelaku pembunuhan Immawan Randi dan Yusuf Kardawi.

Pasalnya, sudah lebih sebelum Randi dan Yusuf wafat, jangankan penetapan tersangka, proses investigasi juga dianggap jalan di tempat.

Mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Sultra Bersatu, mulai berorasi sekira pukul 11.00 Wita.

Demontrasi tersebut diwarnai aksi bakar ban yang dibuang ke kawat, sehingga aparat kepolisian berusuha memadamkan api mendapat penghalangan dari massa.

Polisi yang berusaha memadamkan api terus mendapat halangan dari massa aksi. Sehingga, 1 mahasiswa yang berada dikerumunan massa di tarik polisi dan diamankan ke Mapolda Sultra.

Melihat rekannya diamankan, massa pun melempari batu ke arah barisan pengamanan polisi, yang dibalas tembakan water canon.

Situasi kembali meredah, massa melanjutkan orasinya sambil menyampaikan tuntutan dan meminta rekannya dibebaskan.

“Tujuan kami ke sini ingin bertemu tim invetigasi mempertanyakan kasus meninggalnya teman kami, bukan dibilang provokator, perusuh. Kami di sini menuntut keadilan karena sampai sekarang pelaku pembunuhan tak diungkap,” teriak salah satu orator.

“Kami minta bebaskan rekan kami, kalau tidak 1×24 jam kami laporkan karena pelanggaran HAM dari oknum polisi saat mengamankan demontrasi yang kalian (polisi) lakukan,” tambahnya.

Tak lama berselang, pihak Polda Sultra meminta perwakilan dari mahassiwa untuk mengadakan dialog.

Sekira ada 20 mahasiswa yang ikut dialog bertemu dengan Direktur Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sultra Kombespol Asep Taufik bersama Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabidpropam) AKBP Agoeng di lobi Polda Sultra.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa meminta kejelasan kasus Imawan Randi dan Muhammad Yusuf yang sudah 1 bulan terungkap.

“Kami ingin langsung ketemu dengan tim Invetigasinya. Supaya jelas, jangan melalui perantara,” ujar salah satu perwakilan.

Menyikapi permintaan tersebut, Ditreskrimum Kombespol Asep Taufik mengaminkan permintaan dari mahasiswa tersebut.

“Nanti adik-adik sampaikan dalam bentuk surat, akan kami sampaikan ke tim invetigasi untuk berdialog,” ujar Asep pada mahasiswa.

Selain permintaan tersebut, mahasiswa juga meminta rekannya untuk dibebaskan, baru mereka mau kembali ke rekan-rekannya.

Permintaan itu juga diaminkan oleh Asep, sehingga diminta 2 perwakilan mahasiswa untuk ikut ke Ditkrimum membebaskan rekannya.

Setelah dibebaskan seluru mahasiswa kembali ke depan BPS. Disana, mereka kembali melakukan orasi. Mereka kecewa karena belum ada kejelasan dari dialog tersebut dan bukan Kapolda Sultra langsung yang menemui mereka ataupun dari tim Invetigasi.

Sekira pukul 16.30 Wita bentrok pun tak tershindarkan, mahasiwa melemparkan batu ke arah barisan pengamanan polisi, dibalas dengan semprotan water canon dan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa aksi.

Belakangan diketahui, bukan hanya menggunakan batu massa melempari polisi, namun didapati bungkusan platik berisi tinja yang mengenai aparat dan berserahkan di depan Kantor BPS Sultra.

“Maaf saya share beberapa dokumentasi kotoran/tinja yang dilempar massa unjuk rasa ke personel pengamana,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sultra AKB Harry Goldenhardt melalui pesan whatshapp pada wartawan koran ini.

Massa terus dibubarkan paksa. Massa aksi dipukul mundur hingga ke Bundaran Tank Aduonohu. Kejadian tersebut mengganggu kelencaran lalu lintas. (p2/man)

Leave A Reply

Your email address will not be published.