Kasuistika

Diduga Dipukul Petugas, Tahanan Rutan Unaaha Masuk  UGD

Narapidan Farhan saat dijemput keluarga untuk dibawa ke RSUD Unaaha untuk dilakukan perawatan . Foto: Irman/ Bkk

UNAAHA, BKK- Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Kelas II B Unaaha Kabupaten Konawe, Paulus Darma K, diduga melakukan  pemukulan kepada warga binaannya. Tindakan fisik petugas tersebut, mengakibatkan seorang tahanan bernama  Farhan (18) mengalami cedera dan saat ini dirawat di UGD RSUD Unaaha.

Rukmini Tabara yang merupakan ibu dari tahanan ini,  menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh oknum pegawai rutan tersebut.

“Anak saya itu sekarang merasa kesakitan di bagian kakinya. Tidak berjalan dan tidak bisa baring,” katanya saat di temui di RSUD Unaaha, Selasa (8/10).

Ia mengaku mengetahui peristiwa yang menimpa anaknya itu setelah mendapat informasi dari keluarga salah satu tahanan. Keesokan harinya ia pun bergegas datang ke Rutan Unaaha seraya menjenguk anaknya itu, meskipun sempat dipersulit oleh petugas.

“Dan setelah melakukan negosiasi, akhirnya pihak rutan baru mau mengindahkan pertemuan dengan anak saya dan saya terkejut melihat kondisi anak saya keluar dipapah oleh kawannya,” ujarnya.

Saat kitu juga, akunya, ia langsung meminta  ke pihak rutan agar anaknya bisa dirawat di rumah sakit terdekat untuk dilakukan perawatan intensif.

“Di bagian pahanya itu ada garis memar, seperti bekas dipukul pakai benda tumpul dan badanannya dingin,” ujarnya.

“Sekarang masih di UGD. Dan saat ini kita masih menunggu petunjuk dari dokter. Apakah mau dirawat inap atau bagiamana. Semua kami serahkan ke petugas medis,” sambungnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Paulus Darma K mengakui dirinya telah memukul tahanan kasus asusila itu. Menurutnya, tindakan yang dilakukannnya berawal dari laporan bahwa adanya perkelahian di dalam blok tahanan tempat  Farhan. Ia kemudian memanggil sejumlah tahanan untuk diberikan pembinaan.

“Saya akui. Ini bentuk dari kehilafan saya dan saya tidak sengaja melakukan tindakan fisik itu,” akunya.

Ia mengatakan, sesuai dengan standar pembinaan di rutan memang sangat tidak dibenarkan melakukan tindak  refresif kepada warga binaan. Terkait kejadian ini, pihaknya siap bertanggung jawab.

“Kami membolehkan untuk mengeluarkan Farhan untuk sementara dalam rangka perawatan. Tetapi sesuai dengan prosedur yang berlaku, kami tetap akan mendampingi pihak keluarga. Secara pirbadi saya meminta maaf kepada keluarga besar Farhan, karena hal ini merupakan bentuk kehilafan saya sebagai manusia biasa,” terangnya. (irm/nur)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top