Headline

Peluru Siapa yang Bunuh Randy? Ini Kata TNI

Kendari, BKK- Harus ada penjelasan mengenai peluru siapa yang membunuh Randy, mahasiswa UHO yang berdemonstrasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak Undang-Undang (UU) KPK hasil revisi dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), Kamis (26/8). Dokter forensik memastikan lubang di dana Randy adalah jejak peluru tajam.

Kepolisian Daerah (Polda) Sultra telah mengegos tuduhan bahwa lubang peluru itu dibuat pasukan pengamanan yang diterjunkannya.

Sementara, Komando Resor Militer (Korem) 143 Halu Oleo coba ditemui wartawan Berita Kota Kendari, Jumat (27/9), juga menyatakan TNI tidak diterjunkan untuk pengamanan demonstrasi pada hari berdarah itu.

Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 143 HO Mayor Arm Sumarsono menyebutkan, TNI tidak diterjunkan dalam pengamanan unjuk rasa hari itu.

“TNI tidak sama sekali melakukan penembakan. Kan kami di sana tidak ada juga,” tegasnya.

Ia melanjutkan, tentara baru turun di lapangan setelah mendengar ada korban jiwa jatuh.

“Jadi, kami turun hanya saat itu. Tapi, kalau saat demo sampai ada yang meninggal, kami belum ada di lokasi,” terang Mayor Sumarsono.

Ia menyambung, di negara ini yang bisa menggunakan senjata hanya ada dua, yakni TNI dan Polri.

Setelah adanya penjelasan ini, ujar Kapenrem 143 HO, pihaknya mempersilakan masyarakat untuk menilai sendiri.

“Kita harus melakukan penyelidikan, tapi yang menilai masyarakat jua. Karena, kami di saat korban meninggal tidak ada di lokasi kejadian,” tekannya.

Hasil Autopsi

Hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik di Rumah Sakit Kota Kendari telah menyimpulkan Randy meninggal dunia akibat luka tembak.

Dokter spesialis forensik, dr Raja Alfatih Widya Iswara menerangkan, Jumat (27/9), peluru menembus tubuh korban dari punggung kiri bagian belakang, di bawah ketiak, lalu keluar dari dada sebelah kanan korban.

“Tembus. Jalurnya panjang dan kedalamannya tak bisa kami ukur,” bebernya.

Dia menjelaskan, ada organ dalam yang ikut rusak terkena terjangan peluru. Luka ini, mulai dari bagian paru-paru kanan hingga ke paru-paru kiri.

“Mengenai sedikit pembuluh darah. Ada (yang) namanya mediastinum, terletak di tengah paru-paru kanan dan paru-paru kiri,” jelas Raja.

“Akibatnya, korban mengalami pendarahan hebat. Dan, paru-parunya mengecil karena mengalami kebocoran. Sehingga dari luka itu mengakibatkan korban meninggal dunia,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, korban tewas terkena peluru tajam, namun, proyektil peluru tidak ditemukan saat berusaha dicari.

“Lebar luka pada dada kiri yakni 0,9 sentimeter, sementara lebar lubang dada kanan sekitar 2,1 sentimeter,” tambahnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Harry Goldenhard ditemui di Kantor DPRD Sultra usai kejadian pada Kamis (26/9) mengaku, aparat kepolisian yang berjaga tidak dibekali peluru tajam maupun peluru karet.

Menurutnya, aparat yang berjaga hanya dibekali tameng, pentungan, water cannon, dan gas air mata.

“Tidak ada peluru karet, karena anggota kami sudah dicek sebelum melakukan pengamanan,” kata Harry.

Menyikapi korban meninggal dunia, Harry menyebutkan pihaknya bakal melakukan penyelidikan atas 1 korban meninggal dunia. Jadi, itu peluru siapa? (p3-p2/iis)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top