Headline

Kekeringan, Sawah di Konawe Terancam Gagal Panen

Ilustrasi

UNAAHA, BKK- Kemarau baru berjalan kurang lebih satu bulan, tapi sudah daerah irigasi di Kabupaten Konawe mengalami kekeringan. Kondisi ini mengancam banyak petani padi gagal panen di musim tanam kedua tahun ini.

“Daerah paling kritis saat ini ada 3 kecamatan, yakni Amonggedo, Meluhu, dan Onembute,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) dan PUPR Konawe Noor Jannah, Kamis (12/9), saat ditemui di ruang kerjanya.

Bahkan di Meluhu, lanjut dia, sudah nol liter air per detiknya yang mengalir di jaringan irigasi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sambung dia, sejumlah bendungan di 3 kecamatan ini sudah tidak dapat diandalkan untuk menyuplai air ke sawah.

Pasalnya, hampir sebagian besar anak sungai yang menjadi sumber air irigasi di daerah usaha pertanian ini sudah mengering.

“Kita hanya bisa berharap hujan bisa turun di bulan ini. Supaya tidak mengganggu produksi padi para petani di Oktober nanti,” katanya.

Berkait kondisi ini, Noor Jannah mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi lintas sektoral, seperti balai wilayah sungai (BWS), dinas pertanian, dan BP4K, untuk mentaktis persoalan ini, dengan cara menggerakkan sumber daya dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan, misalnya, sumur bor.

Ia menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 16 Tahun 2015 sebanyak 32 titik sumur bor yang tersebar di sejumlah wilayah basis persawahan di Konawe merupakan aset BWS, yang saat ini dikelola oleh instansi tersebut.

Menurut dia, fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk menjadi sumber pengairan petani setempat, di samping akan adanya bantuan mesin pengisap air yang akan diturunkan kepada petani.

Namun, ia menilai langkah ini belum efektif sepenuhnya, karena meskipun alat ini diturunkan tetapi kemungkinan sulit untuk digunakan, karena sungai yang menjadi tempat mengisap air juga sudah mengering.

Ia berpendapat, setiap daerah persawahan memiliki bendungan, yang sumber airnya dari sungai yang mengalir di daerah tersebut. Dan cara tepat untuk mengantisipasi ini sebelum fasilitas penunjang itu turun, yakni melakukan pengairan di jaringan irigasi dengan cara bergiliran.

“Kebetulan Sungai Lahambuti masih ada harapan untuk menyuplai air. Tetapi debit airnya juga sudah mulai berkurang karena memfasilitasi kebutuhan air petani di beberapa daerah irigasi,” tuturnya.

Data mencatat, 3 kecamatan di atas sekitar 1.993 hektare lahan produktif petani dan sekitar 1.266 hektare sudah ditanami padi, dengan umur tanaman berada di kisaran 2 bulan atau menjelang padi mulai bunting.

Sedangkan 727 hektare lahan belum sempat digarap, karena menunggu  ketersedian air kembali normal.

“Sekarang yang kita pikirkan cara supaya yang 1.266 hektare ini bisa panen dengan baik. Tidak mengalami gagal panen. Apalagi, tanaman tinggal menunggu 1 bulan lagi. Kalau ini terjadi, yah, kerugian petani bisa mencapai miliaran rupiah. Di lokasi ini rata-rata jumlah produksinya bisa mencapai 3,5 ton per hektarenya,” jelasnya. (irm/iis)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top