Bisnis & Ekonomi

Dosen Faperta UHO Dampingi Petani Budidaya Padi Gogo dan Pengolahan Pasca Panen

Demplot padi gogo atau padi ladang beras merah dengan menggunakan sistem bedengan dan jalan pemeliharaan tanaman.

Oleh: Syair, Rahayu M, dan Djukrana Wahab/Mariani

TIDAK sedikit masyarakat Wolasi, Kabupaten  Konawe Selatan adalah petani ladang dengan menanam beberapa jenis tanaman, salah satunya adalah padi gogo atau padi ladang.  Padi gogo ditanam di lahan kering dengan kontur yang bervariasi mulai dari yang berbukit atau lahan datar.

Setiap musim tanam tiba, tepatnya  awal musim hujan atau paling lambat setiap awal tahun mereka mulai menanami lahan miliknya. Penanaman dilakukan secara tunggal tanpa melakukan pengolahan tanah dan mungkin input bahan organik yang rendah. Bahan organik diperoleh secara alami dari dekomposisi bahan organik atau vegetasi yang tumbuh di lahan tersebut.

Cara ini dilakukan secara terus menerus. Warisan teknik budidaya belum banyak berubah mengikuti pola budidaya yang lebih baik. Bahkan masih ada yang menggunakan cara budidaya yang nomaden, perpindah dari satu lahan ke lahan berikutnya. Produktivitasnya masih rendah dibandingkan dengan potensi produksinya.

Berdasarkan pada permasalahan tersebut tim pelaksana pengabdian, yaitu Ir. H. Syair, MP, anggota Dr.Ir. Hj. Rahayu M, MP masing-masing adalah dosen jurusan Proteksi Tanaman dan anggota Ir. Hj. Djukrana Wahab, MP/Mariani L, SP, MP adalah dosen jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat skim Program Kemitraan Masyarakat (PKM), dengan judul Kelompok Tani Padi Gogo Beras Merah dan Pengolahan Pasca Panennya. Program ini didanai oleh Kementerian Ristek Dikti, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) tahun anggaran 2019.

Tanaman padi gogo atau padi ladang yang tumbuh subur karena budidaya tanaman dilakukan secara baik atau Good Agricultural Practices (GAP) .

Tim pelaksana melakukan pendampingan cara-cara budidaya tanaman secara baik —Good Agricultural Practices (GAP)  yang dimulai dengan pembersihan lahan, pengolahan, penanaman, pemeliharaan, dan panen. Ketika pembukaan lahan, vegetasi yang tumbuh di atasnya dimanfaatkan sebagai bahan pupuk hijau yang akan digunakan sebagai pupuk dasar setelah difermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Lahan milik petani  berukuran 50 x 50 meter persegi diolah dengan menggunakan traktor dan selanjutnya dibuat bedengan berukuran lebar 1,5 meter dengan panjang 13 meter. Setiap bedengan diberi jarak selebar 50-60 cm sebagai jalan pemeliharaan dan memudahkan tanaman mendapatkan paparan sinar matahari. Penanaman dilakukan dengan tugal dengan jarak 30 x 25 cm (Gambar 1). Sebelum penanaman bedengan diberi  bahan organik setara dengan 2 ton per hektare. Secara umum pertumbuhan cukup baik dan tanaman terlihat lebih rapi dikarenakan memiliki jarak tanam yang teratur.

Pembuatan bedengan ini agak berat bagi petani, namun ketika petani berhasil membuat bedengan maka pada musim tanam berikutnya lahan tidak perlu diolah dengan traktor cukup dengan dicangkul atau dengan menggunakan kultivator. Cara ini akan memudahkan petani untuk tetap menjaga kesuburan lahannya atau melakukan pola integrasi dengan tanaman lain atau melakukan penanaman setelah masa panen tanpa harus melakuan pemberaan lahan.

Respons petani mitra terhadap kegiatan PKM  baik terbukti dengan partisipasi aktif  dari petani mitra. Jenis padi yang digunakan adalah beras merah aromatik. Jika produktivitasnya mampu ditingkatkan akan memberikan multiefek bagi petani dan keluarganya di masa datang.  Hal ini didukung dengan permintaan beras merah dari tahun ke tahun terus meningkat, khususnya bagi masyarakat tertentu yang membutuhkan karbohidrat dengan nilai glutamik yang rendah. Meskipun harga beras merah lebih mahal dibandingkan dengan beras putih permintaan akan terus meningkat seiring dengan perbaikan tingkat kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi karbohidrat. Apalagi jika dilengkapi dengan pengolahan pasca panen yang menggunakan bahan beras merah akan memberikan nilai tambah bagi petani padi gogo beras merah.

Tim Pelaksana menyampaikan terima kasih kepada DRPM atas pendanaan kegiatan ini, serta petani mitra yang telah antusias bekerja sama. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo Dr. H. La Aba, S.Si, M.Si, mengarahkan agar program ini dapat dilanjutkan  untuk menjaga teknologi tepat guna yang telah ditransfer dapat terus dilakukan oleh petani mitra dalam bentuk skim-skim pengabdian lainnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top