Bisnis & Ekonomi

PKM Kelompok Tani Smart Farmer di Desa Morome

Tim Pelaksana PKM Kelompok Tani Smart Farmer di Desa Morome memberikan pelatihan tentang manfaat penggunaan teknologi informasi sebagai solusi cepat bagi petani mitra yang menghadapi masalah budidaya tanaman dan demplot vertikal garden.

LAYAKNYA koin yang punya dua sisi berbeda, revolusi industri pertanian 4.0 tidak hanya membawa peluang bagi dunia pertanian, tetapi juga menjadi tantangan baru bagi insan-insan pertanian, ahli, peneliti, penyuluh, termasuk petani untuk siap mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Salah satu jalan keluar adalah dengan meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk petani untuk menjadi cerdas (smart farmer). Petani mitra, selayaknya tidak bergantung pada petugas lapang ketika menghadapi  masalah seperti hama dan penyakit dan cara budidaya tanaman. Penggunaan teknologi informasi menjadi jalan keluar untuk cepat mendapatkan respons terhadap permasalahan petani mitra, paling tidak dapat melakukan tindakan dini atau pencegahan sebelum petugas lapang tiba di lahan petani. Petani mitra juga dikenalkan cara budidaya tanaman secara vertikal dan diedukasi untuk menggunakan pupuk kandang sapi hasil fermentasi.

Adapun tim pengabdian Program Kemitraan Masyarakat (PKM), yaitu Tim Pelaksana terdiri atas Dr. Gusnawaty HS, SP MP adalah ahli di bidang hama dan penyakit tanaman, Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Halu Oleo Kendari,  anggota tim pengusul Dr. Dewi Nurhayati Yusuf, M.Sc. ahli di bidang informasi teknologi Jurusan Ilmu Tanah Faperta Universitas Halu Oleo, sedangkan Prof. Dr. Muhammad Taufik ahli di bidang penyakit tanaman dan aktif melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat,  Jurusan Proteksi Tanaman, Faperta Universitas Halu Oleo.

Tim Pelaksana melakukan pendampingan kepada petani mitra di Desa Morome, Konda, Konawe Selatan. Kegiatan ini didanai oleh Kementerian Ristek Dikti, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) tahun anggaran 2019.

Petani mitra bukan hanya diedukasi atau dikenalkan dengan teknologi informasi tetapi juga melakukan cara-cara buidaya tanaman nonkonvensional, misalnya dengan vertikal garden dan hidroponik. Cara budidaya tersebut akan menjadi pilihan ketika keterbatasan lahan menjadi faktor pembatas. Semakin bayak lahan yang dialihfungsikan memaksa petani memiliki lahan garapan yang semakin sempit. Lahan yang sempit akan mengarahkan produski petani menjadi berkurang. Produksi yang rendah akan memicu pendapatan petani menjadi lebih rendah. Rendahnya pendapatan petani akan mendorong sulitnya petani mengakses fasilitas yang ada, termasuk pendidikan. Pendidikan yang rendah dipastikan akan menyulitkan terjadi peningkatan SDM. Pengenalan budidaya hidroponik juga dilaksanakan oleh tim pelaksana dengan mengajari petani menanam tanpa tanah. Budidaya hidroponik ini memiliki beberapa keuntungan seperti aplikasi bahan kimia menjadi lebih rendah dan tanaman menjadi lebih bersih sehingga lebih menarik.

Desa Morome memiliki banyak ternak sapi. Namun demikian, sapi lebih banyak dilepasliarkan. Tidak banyak petani yang memiliki kandang, jika pun memiliki kandang tidak dilengkapi dengan bak fermentasi. Selama ini feses sapi mengalami dekomposisi secara alami tanpa melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Program kegiatan pembuatan bak fermentasi limbah ternak menjadi sangat penting karena petani akan memperoleh pupuk kandang sapi hasil fermentasi. Pupuk kandang hasil fermentasi memiliki nilai-nilai nutrisi hara makro dan mikro yang lebih lengkap dibandingkan dengan dekomposisi alami limbah/feses ternak sapi.

Respons petani cukup baik, khususnya ketika petani diedukasi untuk memanfaatkan teknologi informasi, misalnya pengenalan aplikasi myAgri yang merupakan laman resmi yang diorganisir oleh Kementerian Pertanian. Berbagai fasilitas dapat dimanfaatkan oleh petani seperti informasi tentang pestisida, OPT tanaman, informasi cuaca, dan tanya pakar. Melalui pemanfaatan situs tersebut, maka permasalahan tentang budidaya dapat dijawab dengan cepat tanpa harus menunggu petugas lapang tanaman. Secara langsung petani mitra mendapatkan pengetahuan atau keterampilan tentang budidaya tanaman melalui proses belajar mandiri.  Penggunaan media informasi tersebut akan mengarahkan petani menjadi lebih cerdas sesuai dengan visi pemerintah adalah SDM yang unggul-petani cerdas.  Untuk menjaga komunikasi tim dan petani mitra pendampingan akan terus dilakukan baik menggunakan skim pengabdian dari DRPM maupun menggunakan program-program pengabdian yang telah   disusun oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Halu Oleo (LPPM UHO).

Hal ini telah menjadi arahan kunci dari Ketua  LPPM  UHO, Dr. H. La Aba, S.Si., M.Si kepada tim pelaksana kegiatan agar keberlanjutan program pasca kegiatan perlu disiapkan supaya petani mitra tidak merasa ditinggalkan. Akhirnya tim pelaksana dan LPPM UHO mengucapakan terima kasih kepada DRPM Dikti  Jakarta atas pendanaan kegiatan ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top