Headline

Penghasilan Kecil Jadi Alasan Oknum Pegawai Honor UHO Nyambi Bisnis Narkoba

Tersangka SD (kiri) bersama rekannya YT (kanan) diamankan di Mapolda Sultra. (SUHARDIMAN/BKK)

KENDARI, BKK- Oknum pegawai honorer di Universitas Halu Oleo (UHO) blak-blakan soal mengapa dirinya nyambi pengedar sabu-sabu di Kota Kendari, bergabung dalam sindikat narkoba jaringan Batam.

Dalam sindikat ini, pria berinisial SD (42), warga BTN Kendari Permai Kelurahan Padaelu Kecamatan Kambu Kota Kendari bertindak selaku gudang penyimpangan sabu-sabu.

Ia ditangkap Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Senin (8/7) silam, ditangkap bersama rekannya YT alias YD (46), sama-sama kurir sabu-sabu antarprovinsi.

Keduanya merupakan sindikat pengedar sabu-sabu yang dikendalikan bandar dari Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Tersangka berinisial SD yang berhasil ditemui wartawan koran ini menuturkan, Selasa (13/8), honornya jadi pengantar barang di UHO selama 14 tahun sebesar Rp1 juta per bulan, jumlah tersebut dia tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Saya punya anak 4 orang. Honor saya tidak cukup untuk kebutuhan. Jadi, diajak teman, saya ikut-ikutan kerja narkoba,” kata SD.

Tersangka SD mengaku dirinya jadi gudang sabu direkrut oleh salah satu rekannya di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Selama jadi gudang sabu, SD mengaku sudah 2 kali menerima dan menyimpan sabu-sabu kiriman dari pengendalinya yang ada di Batam, yang ketiga kalinya berhasil digagalkan polisi.

Sementara itu, Direktur Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sultra Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Satrya Adhy Permana menyebutkan, peran SD sebagai gudang yakni menyimpan sabu-sabu dan menunggu perintah untuk kemudian diedarkan, baik itu melalui sistem tempel maupun distribusikan ke pengedar lainnya.

“Jadi, jika sabu-sabu yang dikirim sudah habis diedarkan, melalui rekannya tersangka YT, sabu-sabu tersebut dikirimkan lagi (dari Batam),” terang Satrya saat konferensi pers pemusnahan barang bukti sabu di Mapolda Sultra, Selasa (13/8).

“Pengiriman pertama jumlahnya 300 gram, kedua 400 gram, dan yang berhasil digagalkan pengiriman ketiga 768 gram,” sambung Satrya.

Satry menyebutkan setiap sabu yang dikirim berhasil diedarkan, pengiriman selanjutnya akan ditambah lagi berat sabu yang akan dikirim.

“Jadi, jika yang 768 gram sabu yang diamankan kemarin lolos lagi, maka pengiriman selanjutnya akan naik sekitar 1 kilogram (kg),” kata Satrya.

Saat ini, lanjut Satrya menyebutkan pihaknya sedang melakukan penyelidikan dan pengembangan atas terungkapnya jaringan peredaran sabu tersebut.

Melalui koordinasi, sambung Satrya, pihaknya melakukan pencarian pada bandar yang mengendalikan kedua tersangka.

“Sistem komunikasi sindikat ini langsung putus jika 1 tersangka sudah ditangkap. Jadi melalui koordinasi dengan stakeholder, pengungkapan ini masih terus dilakukan pengembangan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dari hasil tes urine, tersangka SD (42) positif tidak menggunakan narkoba. Sedangkan rekannya, tersangka YT alias YD (46) positif menggunakan narkoba.

Untuk proses hukum lebih lanjut kedua tersangka ditahan di Mapolda Sultra. Dan, atas perbuatannya, mereka dikenakan Pasal 114 Ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia (RI) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (p2/iis)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.

ARSIP

To Top