Beranda

Ishak Ismail Sebut Ali Mazi Gagal Paham

KENDARI, BKK- Ishak Ismail menganggap Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi gagal paham dengan status kreditnya yang ada di Bank Sultra.

Terbukti, Ali Mazi meminta pihak kejaksaan turun tangan. Padahal, menurut Ishak, kreditnya ini masuk dalam domain Undang-Undang Perbankan.

Ishak mengaku, heran dengan sikap Ali Mazi yang mengurusi kredit rakyatnya. Karena, selama ini belum ada seorang gubernur di Indonesia yang mengusili kredit rakyatnya.

“Terus terang, saya agak kecewa sama beliau (Ali Mazi) karena sehubungan dengan kredit saya seharusnya tidak perlu dia usili,” ujarnya kepada sejumlah awak media, Senin (12/8).

Ishak membantah jika kreditnya tersebut dikatakan macet. Ditegaskan, kreditnya di Bank Sultra ini tidak ada karena berjalan sesuai prosedur dan aturan perbankan.

“Kredit saya ini, kredit kontraktor. Bahwa tidak mungkin saya dikasih kredit jika tidak ada kontrak proyek. Dan jika sudah diberikan kredit sebanyak Rp30 miliar, berarti minimal 30% dari jumlah kontrak proyek saya. Kalau Rp30 miliar maka kontrak proyek sebesar Rp100 miliar,” katanya.

Ishak menyebut, ada 3 kontrak proyek yang menjadi jaminan di Bank Sultra yakni proyek Jalan Tabanggele sebesar Rp74 miliar, proyek Rumah Susun Unsultra Rp20 miliar, dan peningkatan kawasan kumuh Mandonga Rp7 miliar. Sehingga, totalnya lebih dari Rp100 miliar.

Dibeberkan, status kredit miliknya tersebut bernama standby loan. Artinya ini fasilitas kepada nasabah khusus yang punya proyek rutin dan punya kredibilitas yang mumpuni.

Standby loan ini tidak seenaknya kita mau pakai, kalau tidak ada kontrak proyek pasti tidak bisa keluar. Kemudian, kalau saya punya kredit Rp30 miliar maka sama dengan saya punya jaminan senilai Rp60 miliar. Fasilitas saya memang Rp30 miliar tapi yang saya pakai baru Rp21 miliar ,” tandasnya.

Sengan dmikina, kredit miliknya ini telah menjaminkan kontrak proyek senilai 100% dari nilai kredit. Dari kredit Rp21 miliar yang dikatakan macet tersebut, sudayh dibayar Rp7,4 miliar

Ishak menegaskan, kreditnya tidak masalah, kendati mengaku pernah terjadi 1 kali keterlambatan mebayar. Tapi setelah menyeberang tahun langsung dibayar, dan dinyatakan tidak ada lagi masalah.

Masalah ini muncil karena tiba-tiba ada pergantian direksi, menyebabkan komunikasi tidak berjalan. Sehingga, ada yang berpandangan kreditnya macet.

Atas merebaknya masalah ini ke publik, Ishak mengaku, kecewa dengan pihak Bank Sultra. Menurut dia, seharusnya nasabah itu dilindungi, bukan malah dibeberkan plafon, angka, dan jenis kreditnya.

“Apakah karena mau pemilihan direktur baru, sehingga mencari kesalahan direktur lama. Kemudian, saya menjadi kambing hitanya, itu dari Bank Sultra-nya,” ucap Ishak.

“Atau karena saya PDI Perjuangan, Ali Mazi NasDem , apakah saya tidak batu dulu jadi gubernue, apakah karena saya sudah berkawan dengan pak Lukman. Ini kita tidak tahu semua motifnya apa,” tambahnya.

Ishak menegaskan, status kreditnya tidak msalah, semua berjalan dengan baik dan normal. Lalu, setoran kreditnya sebagai keutungan Bank Sultra, tiap tahun paling sedikit Rp1,5 miliar.

“Artinya itulah pendapatan Bank Sultra dari seorang Ishak Ismail yang kemudian bisa membantu BPD (Bank Sultra). Selama 30 tahun saya di Bank Sultra, tidak ada masalah, begitu pak Ali Mazi dan pergantian direksi tiba-tiba dipermasalahkan posisi kredit saya. Selama saya bermintra dengan Bank Sultra, saya berikan keuntungan minimal Rp1,5 miliar per tahun,” tandasnya.

Menyusul masalh ini, kreditnya Ishak tak lagi diperpanjang karena gubernur sudah ikut campur. Sebab, Bank Sultra adalah milik pemprov.

Ishak menyebut, kasus ini bermula dari oknum wartawan televisi swasta nasional, Halim, yang menelponnya dengan nada ancaman sehubungan dengan kredit macet.

“Karena beliau sedikit mengancam menurut persaan saya, sehingga saya agak keras juga ngomong, kalaupun dia macet apa urusannya dengan kamu (Halim). Halim ini saya kenal betul, salah seorang wartawan yang suka meminta uang orang melalui ancaman pemberitaan,”

Ishak menegaskan, akan segera mengadukan Halim ke Dewan Pers. Karena, telah beberapa kali Halim meminta uang kepadanya. (man)

.

ARSIP

To Top