Headline

Sesar Lawanopa: Maut yang Berdiam di Bawah Bumi Sultra

Ilustrasi.

Kendari, BKK- Di Sulawesi Tenggara tercatat pernah terjadi peristiwa tsunami, melanda Pulau Buton pada 1925. Demikian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kendari melaporkan.

Data ini tidak mengherankan peneliti, karena Sultra merupakan salah satu wilayah dari Pulau Sulawesi yang memiliki aktivitas gempa bumi yang cukup besar.

Sepanjang 2017 saja, Stasiun Geofisika Kendari mencatat terjadi 141 kali gempa bumi di wilayah Sultra.

Banyaknya gempa bumi yang terjadi, mengindikasikan banyaknya sesar (patahan) yang aktif di wilayah ini.

Penelitian sejauh ini mencatat sesar-sesar utama di Sultra adalah sesar Matano, Sesar Lawanopo, Sesar Kolaka, Sesar naik Tolo dan Sesar Hamilton.

Selain sesar tersebut, aktivitas gempa bumi di daerah Sultra juga dipengaruhi oleh Sesar Konaweha, Sesar Lameroto, Sesar Sangi-sangi, dan Sesar Matarombeo.

Gempa Kolono

Menurut data base BMKG Stasiun Geofisika Kendari, gempa bumi berskala besar di wilayah Sultra tidak pernah terjadi, namun gelombang laut tsunami, pernah terjadi pada 1925 silam di wilayah perairan Buton.

Gempa bumi tahun 2011 di Kolono dengan Magnitudo 6,0 merupakan gempa bumi yang paling besar tercatat dalam waktu 2007-2015.

Wilayah Konawe Utara menjadi wilayah yang paling sering terjadi gempa bumi dengan variasi skala antara minor sampai kuat.

Gempa bumi yang terjadi merupakan akibat dari aktivitas sesar Matano yang berada di sebelah utara sampai ke timur laut wilayah tersebut.

Sesar Lawanopo

Sesar Lawanopo adalah salah satu sesar utama di Sultra. Sesar ini membelah Sultra dari Malili sampai Kota Kendari.

Dalam bahasa geologi, Sesar Lawanopo merupakan sesar mendatar ke kiri (sinistral strike-slip) yang berarah barat laut – tenggara dan memanjang sekitar 260 km dari utara Malili sampai Tanjung Toronipa.

Kekuatan gempa yang bisa diciptakan sesar ini bisa mendekati daya rusak yang diakibatkan Sesar Palu Koro yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 28 September lalu.

Tidak banyak yang diketahui mengenai sesar yang tengah tidur ini. Sedikit informasi yang didapatkan peneliti mengemukakan, sesar ini bergerak dengan kecepatan 23 milimeter per tahun. Kekuatan gempa yang ditimbulkannya bisa mencapai magnitudo 7,4.

Terbentuknya Sulawesi

Menurut Ekspedisi Palu Koro, terciptanya Sesar Palu Koro dan Sesar Lawanopo tidak lepas dari proses geologi yang begitu rumit dan kompleks selama puluhan juta tahun telah membentuk Pulau Sulawesi menyerupai huruf K.

Sekian puluh juta tahun silam, Sulawesi hanyalah berupa empat pulau mengapung. Kemudian pulau itu bergerak menjadi satu.

Empat pulau mengapung itu bergerak dalam pergerakan sentimeter per tahun.

Pergerakannya dibawa oleh tiga lempeng besar yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Juga dipengaruhi oleh pergerakan lempeng Filipina yang lebih kecil dari arah Timur Laut.

Rumit dan kompleksnya proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi ini pula yang akhirnya menyebabkan terbentuknya sesar yang merobek dan melintang-lintang di Pulau Sulawesi.

Ilmu geologi masa kini mengenal setidaknya ada 9 sesar terbesar yang membuat Sulawesi dikepung oleh gempa.

Sesar tersebut meliputi Sesar Palu Koro, Sesar Poso, Sesar Matano, Sesar Lawanopo, Sesar Walanae, Sesar Gorontalo, Sesar Batui, Sesar Tolo, dan Sesar Makassar.(iis)

.

ARSIP

To Top